Sayap yang Salah Membaca Langit

Bab 1: Pagi yang Selalu Dimulai dengan Angin

Di sebuah hutan kecil yang terletak di tepi kota, pagi selalu dimulai dengan cara yang sama: angin datang lebih dulu, lalu cahaya, baru kemudian suara.

Angin menyusup di antara daun, membangunkan burung-burung yang tidur dengan kepala terselip di balik sayap. Cahaya matahari menetes pelan dari sela dahan, seperti air hangat. Dan suara—suara baru muncul setelah semua makhluk sepakat bahwa hari boleh dimulai.

Di hutan itu, hiduplah seekor burung kecil berwarna abu-abu kecokelatan bernama Lira.

Lira bukan burung yang mencolok. Bulunya sederhana, suaranya lembut, dan terbangnya tidak secepat burung layang-layang. Tapi Lira punya satu kelebihan: ia sangat pandai membaca arah angin.

Ibunya dulu sering berkata, “Kalau kamu bingung, jangan lihat ke tanah. Lihat ke udara. Angin selalu jujur.”

Lira menyimpan kalimat itu seperti peta di kepalanya.

Setiap tahun, saat udara mulai berubah dingin, Lira dan kawanannya akan melakukan perjalanan panjang. Mereka akan terbang meninggalkan hutan kecil itu menuju tempat yang lebih hangat. Perjalanan ini disebut perjalanan musim, dan semua burung mempersiapkannya dengan serius.

Ini adalah tahun pertama Lira ikut perjalanan jauh.

Bab 2: Persiapan yang Penuh Cerita

Sebelum berangkat, kawanan burung selalu berkumpul di pohon tua bernama Pohon Penjaga Arah. Pohon itu tinggi dan sudah ada sebelum kota tumbuh besar di sekitarnya.

Di dahan tertingginya, tinggal burung hantu tua bernama Oru.

Oru tidak ikut bermigrasi. Ia tinggal sepanjang tahun. Tapi ia tahu banyak tentang langit, karena malam adalah bukunya dan bintang adalah huruf-hurufnya.

“Kalian harus ingat,” kata Oru pada pagi sebelum keberangkatan, “langit tidak selalu seperti yang terlihat. Kadang ia memantulkan, kadang ia menipu.”

Lira mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

“Apa maksudnya menipu?” tanya Lira.

Oru menoleh pelan. “Kalian akan mengerti… saat melihat kota.”

Kata “kota” membuat beberapa burung bergidik. Kota berarti tinggi, terang, dan penuh benda yang tidak bisa diajak bicara.

Namun perjalanan harus tetap dilakukan.

Bab 3: Terbang Menuju Cahaya

Hari keberangkatan tiba. Langit biru, angin lembut, dan kawanan burung terbang bersama membentuk garis panjang seperti kalimat yang ditulis di udara.

Awalnya semuanya berjalan lancar. Mereka terbang di atas ladang, sungai, dan perbukitan. Angin membawa mereka dengan ramah.

Lira terbang di tengah kawanan, mengikuti burung yang lebih tua.

Namun menjelang sore, mereka mendekati wilayah yang berbeda. Tanah di bawah berubah bentuk. Pepohonan berkurang. Jalan-jalan panjang berkilau seperti ular hitam.

Dan di kejauhan, kota muncul.

Lira terdiam. Ia belum pernah melihat begitu banyak cahaya yang tidak berasal dari matahari.

Gedung-gedung tinggi berdiri seperti tebing kaca. Permukaannya memantulkan langit, awan, dan bahkan bayangan burung sendiri.

“Kita tetap ikut angin,” kata burung pemimpin kawanan. “Jangan terpancing cahaya.”

Lira mengangguk, meski dadanya terasa tegang.

Bab 4: Langit yang Terlihat Terbelah

Saat matahari mulai tenggelam, kota menyalakan lampunya. Cahaya kuning, putih, dan biru menyala bersamaan. Dari atas, kota tampak seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi.

Lira melihat pantulan awan di kaca gedung. Awan itu tampak nyata—seolah ada langit lain yang terbuka di tengah kota.

Angin berubah arah sedikit.

Kawanan terpecah kecil-kecil, bukan karena panik, tapi karena mencoba menyesuaikan diri.

Lira berusaha mengikuti burung di depannya. Tapi tiba-tiba, sesuatu menarik perhatiannya.

Di depan Lira, ada “langit” yang tampak tenang, biru, dan kosong.

Tanpa sadar, Lira mengubah arah sedikit.

Dan saat itu terjadi, angin tidak sempat memperingatkan.

Bab 5: Benturan yang Tidak Dimengerti

Lira terbang menuju pantulan langit di kaca gedung.

Dalam sepersekian detik, dunia berubah.

Tidak ada langit. Tidak ada udara kosong.

Yang ada hanya benda keras.

Lira menabrak kaca.

Bunyi benturan itu kecil, tapi cukup membuat tubuhnya terlempar ke bawah. Sayapnya terasa panas. Kepalanya berputar.

Ia tidak pingsan, tapi tidak bisa langsung terbang.

Lira jatuh ke balkon sebuah gedung, meringkuk di sudut, napasnya cepat dan tidak teratur.

Cahaya kota terasa menyilaukan. Suara-suara asing datang dari segala arah.

Lira mencoba mengingat pesan ibunya tentang angin. Tapi di sini, angin terjebak di antara tembok.

Lira takut.

Bab 6: Kota yang Tidak Mengerti Burung

Malam semakin gelap, tapi kota justru semakin terang. Lampu-lampu menyala tanpa henti. Gedung memantulkan cahaya satu sama lain, membuat langit terasa penuh dan kosong sekaligus.

Lira mencoba berdiri. Sayapnya masih bisa digerakkan, tapi terasa berat.

Di balkon itu, ada pot tanaman dan kursi. Lira bersembunyi di balik pot, berharap aman.

Ia mendengar manusia lewat di dalam gedung, tapi tidak ada yang melihatnya.

Lira mulai menggigil. Udara kota dingin dan keras.

“Kenapa langit berbohong?” bisiknya pelan.

Bab 7: Anak Manusia yang Suka Mengamati

Di gedung itu, tinggal seorang anak manusia bernama Nara.

Nara suka mengamati burung dari jendela kamarnya. Ia sering menggambar burung, awan, dan pohon—meski tinggal di kota.

Malam itu, Nara melihat sesuatu bergerak di balkon.

Ia mendekat pelan dan membuka tirai sedikit.

Ia melihat burung kecil meringkuk, tampak lelah.

Nara tidak berteriak. Ia tidak mengetuk kaca. Ia hanya berbisik, “Kamu nyasar ya?”

Lira tidak mengerti kata-kata, tapi ia merasakan nada suara yang lembut.

Nara memanggil orang tuanya. Mereka mematikan lampu balkon agar burung tidak stres. Mereka meletakkan air kecil di tutup botol, lalu menjauh.

Untuk pertama kalinya sejak jatuh, Lira merasa tidak sendirian.

Bab 8: Malam yang Lebih Sunyi

Dengan lampu balkon dimatikan, langit terasa lebih gelap. Bintang-bintang yang tadinya kalah oleh cahaya kota kini mulai terlihat.

Lira minum sedikit air. Tubuhnya masih sakit, tapi pikirannya lebih tenang.

Di kejauhan, ia mendengar suara burung lain—kawanannya mungkin sudah lewat, tapi suara itu cukup membuatnya ingat bahwa ia bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Lira tidur sebentar, dengan satu mata terbuka.

Angin malam akhirnya datang, menyentuh bulunya pelan, seperti tangan lama yang dikenal.

Bab 9: Pagi dan Keputusan Kecil

Saat pagi tiba, cahaya matahari menyinari balkon tanpa pantulan berlebihan. Kaca tidak lagi menipu.

Lira mencoba mengepakkan sayap. Masih terasa nyeri, tapi bisa.

Nara membuka pintu balkon perlahan dan mundur, memberi ruang.

Lira menatap langit. Kali ini, ia melihat langit yang sebenarnya.

Dengan satu kepakan hati-hati, Lira terbang.

Tidak tinggi, tidak cepat, tapi cukup untuk menjauh dari balkon.

Nara tersenyum dan melambaikan tangan kecilnya.

Bab 10: Pelajaran yang Menyebar

Lira tidak langsung kembali ke kawanan. Ia beristirahat di taman kecil dekat gedung, di antara semak dan pohon kota.

Di sana, ia bertemu burung pipit lain yang juga tampak lelah.

“Kota membingungkan,” kata burung itu.

Lira mengangguk. “Langitnya palsu.”

Mereka tertawa kecil—tawa burung yang ringan tapi jujur.

Beberapa hari kemudian, Lira melanjutkan perjalanan. Kali ini ia terbang lebih tinggi, menjauhi pantulan.

Ia membawa satu pelajaran penting: tidak semua yang terlihat seperti jalan adalah jalan.

Epilog: Kota yang Mulai Belajar

Di gedung tempat Nara tinggal, orang-orang mulai memasang stiker kecil berbentuk burung di kaca. Lampu balkon dimatikan lebih awal saat musim migrasi.

Kota tidak berubah sepenuhnya. Tapi kota mulai belajar.

Dan di udara, burung-burung membaca langit dengan lebih hati-hati.

Lira kembali ke hutan kecil di musim berikutnya, membawa cerita tentang kaca, cahaya, dan manusia yang mau mendengar.

Ibunya mendengarkan, lalu berkata, “Sekarang kamu tahu. Angin jujur, tapi kita juga harus belajar membaca dunia baru.”

Lira mengangguk.

Sayapnya kini lebih kuat, bukan karena cepat—tapi karena mengerti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link